Jumat, 26 Juni 2009

MAKALAH PENGARUH SUHU LINGKUNGAN TERRHADAP TERNAK ( KAMBING ETTAWA )

BAB I
PENDAHULUAN

Sistem pemeliharaan kambing di Indonesia sebagian besar masih dilakukan secara tradisional oleh petani ternak. Ternak dilepas atau digembalakan di lapangan atau padang rumput lain pada siang hari. Konsekuensi sistem pemeliharaan demikian adalah terjadinya beban panas yang berlebih atau cekaman panas pada ternak, karena pengaruh langsung dari radiasi matahari dan suhu lingkungan yang tinggi. Kondisi ini memaksa ternak untuk mengaktifkan mekanisme termoregulasi, yaitu peningkatan suhu rektal, suhu kulit, frekuensi pernafasan dan denyut jantung, serta menurunkan konsumsi pakan (Purwanto et al., 1996).
Rendahnya persentase bobot karkas pada suhu lingkungan rendah disebabkan oleh tingginya bobot alat pencernaan (jeroan), berhubung tingginya konsumsi pakan di daerah suhu lingkungan rendah. Terjadinya peningkatan konsumsi pakan, diikuti peningkatan bobot jeroan dan isi. Kaitan antara suhu lingkungan dengan konsumsi pakan, dijelaskan melalui pengaruhnya pada aktivitas metabolisme.

BAB II
URAIAN MATERI

Pengaruh Suhu Lingkungan Terhadap Fisiologis
Masalah utama dari ternak yang dipelihara di daerah tropis basah, seperti di Indonesia, adalah tingginya radiasi matahari secara langsung sepanjang tahun, khususnya bagi ternak berproduksi tinggi, sehingga ternak dalam kondisi uncomfort karena beban panas yang berlebih. Respons dari masalah ini adalah ternak terpaksa meningkatkan aktivitas termoregulasi guna mengatasi beban panas yang dideritanya. Suhu dan radiasi matahari pada kandang tanpa atap atau tanpa naungan (atap) lebih tinggi daripada kandang dengan naungan (atap). Sebaliknya kelembaban dalam kandang tanpa naungan (atap) lebih rendah daripada di dalam kandang dengan naungan (atap).
Menurut Smith dan Mangkuwidjojo (1988) bahwa daerah nyaman bagi kambing berkisar antara 18 dan 30^0C. Peningkatan suhu terjadi sejalan dengan peningkatan besarnya radiasi matahari yang diterima. Namun demikian, diduga bahwa beban panas yang lebih kecil dialami oleh kambing yang dipelihara di bawah naungan (atap). Kondisi ini terlihat dari kemampuan naungan (atap) untuk memperbaiki lingkungan mikro dalam kandang naungan (atap), yaitu menurunkan suhu dan radiasi matahari.
Mekanisme fisiologis mengharuskan alokasi energi untuk kinerja produksi maupun reproduksi dipakai untuk mempertahankan keseimbangan panas tubuh. Dengan demikian, akan berdampak buruk yaitu penurunan produktivitas ternak. Salah satu cara untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengendalikan panas yang diterima dan peningkatan panas yang terbuang oleh ternak, yaitu pemberian naungan (atap) atau atap dan pemilihan bahan atap yang lebih efektif dalam menciptakan kondisi iklim mikro kandang yang kondusif bagi ternak untuk berproduksi. Jenis atap kandang yang biasa digunakan oleh para peternak, yaitu atap dari rumbia, seng, dan genteng. Dari bahan tersebut kita dapat membandingkan bahan atap mana yang lebih efektif dalam menciptakan kondisi iklim mikro kandang yang kondusif bagi ternak untuk berproduksi
Hasil penilitian Qiston (2007) menunjukkan: (a) jenis atap tidak mempengaruhi suhu udara, kelembaban udara, dan radiasi matahari dalam kandang;(b) kandang beratap rumbia menyebabkan respons suhu rektal lebih rendah dibandingkan dengan kambing yang ada di dalam kandang beratap genteng dan seng pada pengamatan siang, malam, dan rataan harian. Kandang beratap genteng menyebabkan suhu rektal ternak kambing lebih rendah dibandingkan ternak beratap seng pada pengamatan siang dan rataan harian, namun pada pengamatan malam hari tidak berbeda;
(c) kandang beratap rumbia menyebabkan respons frekuensi pernafasan lebih rendah dibandingkan dengan ternak beratap seng baik pada pengamatan siang maupun rataan harian, sedangkan dibandingkan dengan ternak beratap genteng tidak berbeda. Pengamatan malam hari ketiga jenis atap menghasilkan frekuensi pernafasan yang tidak berbeda;(d) ketiga jenis atap kandang tidak menyebabkan perbedaan respons frekuensi denyut jantung balk pada pengamatan slang hail, malam hail, maupun rataan harian;(e) ketiga jenis atap kandang tidak menyebabkan perbedaan respons pertambahan bobot badan harian pada ternak kambing percobaan.
Respons Termoregulasi
Suhu rektal kambing PE pada kandang tanpa naungan (atap) memberikan hasil yang lebih besar daripada kambing yang dinaungi. Hasil ini mengindikasikan bahwa tingkat cekaman atau beban panas yang dialami oleh kambing pada kandang tanpa naungan (atap) lebih besar jika dibandingkan dengan kambing yang dinaungi. Hal ini disebabkan lebih tingginya suhu dan radiasi matahari dalam kandang tanpa naungan (atap). Menurut Mc Dowell (1972), suhu lingkungan yang tinggi mengakibatkan peningkatan suhu tubuh ternak.
Meskipun nilai rataan suhu rektal kambing PE pada kedua kondisi pemeliharaan di kandang dengan naungan (atap) dan di kandang tanpa naungan (atap), suhu rektal keduanya masih berada dalam kisaran normal suhu rectal kambing. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Smith dan Mangkuwidjojo (1988), suhu rektal kambing pada kondisi normal adalah 38,5 -40^0C dengan rataan 39,4^0C atau antara 38,5 dan 39,7^0C dengan rataan 39,1^0C (Anderson, 1970). Hal ini menunjukkan bahwa mekanisme termoregulasi dapat berjalan dengan baik. Kambing yang dipelihara pada kandang tanpa naungan (atap) memiliki frekuensi pernapasan dan denyut jantung yang lebih tinggi daripada kambing di bawah naungan (atap). Kondisi ini dikarenakan ternak pada kandan tanpa naungan (atap) mengalami cekaman atau beban panas yang lebih besar, sehingga akan melakukan aktivitas mekanisme termoregulasi melalui jalur evaporasi, baik melalui kulit maupun pernafasan, yang lebih besar jika dibandingkan dengan ternak yang berada di bawah naungan (atap). Frandson (1993) menyatakan bahwa ternak yang tidak dinaungi akan mengalami peningkatan pada suhu tubuh, suhu rektal, suhu kulit, frekuensi pernapasan, dan frekuensi denyut jantung, sebagai akibat adanya tambahan panas dari luar tubuh terutama yang berasal dari radiasi panas matahari secara langsung.
Konsumsi Ransum dan Pertambahan Bobot Tubuh
Tambahan bobot tubuh kambing yang dipelihara dalam kandang dengan naungan (atap) lebih tinggi daripada kambing yang dipelihara di kandang tanpa naungan (atap). Hal ini disebabkan karena konsumsi ransum ternak di kandang dengan naungan (atap) adalah lebih besar jika dibandingkan dengan kambing tanpa naungan (atap).
Konsumsi ransum pada kambing yang dipelihara tanpa naungan (atap) lebih rendah daripada ternak yang dipelihara di bawah naungan (atap). Hal ini disebabkan karena kambing tanpa naungan (atap) mengalami cekaman atau beban panas yang lebih besar, sehingga terpaksa menurunkan tingkat konsumsi pakannya sebagai upaya untuk mengurangi produksi panas tubuh untuk mencegah cekaman atau beban panas yang semakin besar. Semakin besarnya penurunan beban panas yang dialami oleh ternak di dalam kandang dengan naungan (atap) menunjukkan bahwa energi yang dapat dimanfaatkan untuk proses-proses metabolisme pada ternak di bawah naungan (atap) lebih besar jika dibandingkan dengan energi yang terpaksa digunakan untuk proses termoregulasi pada ternak tanpa naungan (atap). Dengan demikian pertambahan bobot tubuh ternak di bawah naungan (atap) lebih besar.
Beberapa peneliti juga melaporkan bahwa suhu lingkungan mempengaruhi konsumsi pakan. Krogh (2000) menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi konsumsi pakan adalah suhu lingkungan. Suhu ruangan di bawah thermoneutral menyebabkan kosumsi pakan ayam meningkat, sedangkan suhu ruangan di atas kisaran tersebut menyebabkan penurunan konsumsi pakan. Penurunan konsumsi pakan, antara lain disebabkan oleh meningkatnya konsumsi air minum yang digunakan untuk mempertahankan suhu tubuh terhadap suhu lingkungan yang bertambah panas.


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Suhu dan radiasi matahari pada kandang tanpa atap atau tanpa naungan (atap) lebih tinggi daripada kandang dengan naungan (atap). Sebaliknya kelembaban dalam kandang tanpa naungan (atap) lebih rendah daripada di dalam kandang dengan naungan (atap);
jenis atap tidak mempengaruhi suhu udara, kelembaban udara, dan radiasi matahari dalam kandang;
kandang beratap rumbia menyebabkan respons suhu rektal lebih rendah dibandingkan dengan kambing yang ada di dalam kandang beratap genteng dan seng pada pengamatan siang, malam, dan rataan harian. Kandang beratap genteng menyebabkan suhu rektal ternak kambing lebih rendah dibandingkan ternak beratap seng pada pengamatan siang dan rataan harian, namun pada pengamatan malam hari tidak berbeda;
kandang beratap rumbia menyebabkan respons frekuensi pernafasan lebih rendah dibandingkan dengan ternak beratap seng baik pada pengamatan siang maupun rataan harian, sedangkan dibandingkan dengan ternak beratap genteng tidak berbeda. Pengamatan malam hari ketiga jenis atap menghasilkan frekuensi pernafasan yang tidak berbeda;
ketiga jenis atap kandang tidak menyebabkan perbedaan respons frekuensi denyut jantung balk pada pengamatan slang hail, malam hail, maupun rataan harian;
ketiga jenis atap kandang tidak menyebabkan perbedaan respons pertambahan bobot badan harian pada ternak kambing percobaan;
Kambing yang dipelihara pada kandang tanpa naungan (atap) memiliki frekuensi pernapasan dan denyut jantung yang lebih tinggi daripada kambing di bawah naungan (atap);
Konsumsi ransum pada kambing yang dipelihara tanpa naungan (atap) lebih rendah daripada ternak yang dipelihara di bawah naungan (atap);
Penggunaaan naungan (atap) menghasilkan kondisi iklim yang lebih nyaman jika dibandingkan tanpa naungan (atap), yang ditunjukkan oleh lebih rendahnya respons suhu rektal, frekuensi pernapasan, dan frekuensi denyut jantung, serta pertambahan bobot tubuh kambing PE yang lebih tinggi.

Saran
Sebaiknya para peternak menggunakan kandang yang menggunakan atap untuk memelihara hewan ternak agar daging ataupun susu yang didapatkan lebih optimal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar